Archive for the ‘Al MAWAFIQ WAL MUKHTHOBAT (NIKMATNYA MELIHAT AALLAH )’ Category

Al MAWAFIQ WAL MUKHTHOBAT (NIKMATNYA MELIHAT AALLAH )

14 April 2011

Dia adalah laksana batu karang, dimana kita semua akan berhenti, di lautan yang penuh kegelisahan serta keresahan, keadaan yang saling berganti suasana kesemuanya adalah laksana prahara yang akan menenggelamkan biduk kita, maka tiada hambatan, pegangan serta pelindung selain kepada-Nya, disitulah akan kita temui genangan air yang tenang.

Imam An Nafri, sama dengan para sufi lainnya, tidak melihat jalan lain menuju ke sana kecuali dengan ”membebaskan diri” dan menanggalkan kedua terompahmu”. Seperti mana firman Allah swt:

”Tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci Thuwa.” QS Thaahaa:12

Hai hamba-Ku, kamu tidak mempunyai apa-apa kecuali apa yang telah Aku berikan kepadamu, kamu tidak berhak memiliki jiwamu, kerana Akulah yang menciptakannya. Kamu tidak berhak miliki tubuhmu, kerana Akulah yang menyempurnakan penciptaannya, kerana Aku kamu hidup dan dengan kalimah-Ku kamu hadir di dunia ini.

Hai hamba-Ku, kamu adalah barang milik-Ku yang hilang. Apabila Aku telah mendapatkanmu, maka cukuplah kamu bagi-Ku. Kamu adalah barang milik-Ku yang hilang dan Aku adalah barang milikmu yang hilang, tidak ada diantara kita berdua yang merasa kehilangan. Apabila Aku telah menjadi barang milikmu yang hilang, kamu akan merasa bingung kecuali bersama-Ku dan kamu akan merasa bimbang kecuali kamu berada di sisi-Ku.

Tahukah kamu bagaimana cara menemui-Ku secara sendirian. ?
Pertama kamu harus memperhatikan petunjuk-Ku yang Aku berikan kepadamu dengan karunia-Ku dan bukan dengan memperhatikan amal perbuatanmu. Kedua, kamu harus melihat kepada maaf-Ku dan bukan kepada ilmumu. Ketiga, kembalikanlan ilmu dan amal perbuatanmu kepada-Ku, nescaya Aku akan membimbang dan menambahkannya dengan segala karunia-Ku.
Jadikanlah ilmu pengetahuan itu sebagai salah satu saranamu untuk menuju kepada tujuan utama dan bukan sebagai tempat pemberhentianmu. Kerana sesungguhnya, Akulah tempat terakhir bagi segala jalan dan tujuan. Sementara ilmu itu merupakan sarana untuk menuju kepada-Ku dan bukan sebagai tujuan ataupun tempat pemberhentian terakhir.
Oleh kerana itu, waspadalah kepada-Ku. Sikap diammu itu. sebenarnya, tidak akan menjadi penyokong dirimu. Sedangkan kamu menduga bahawa diammu itu merupakan faktor penyebab kedekatanmu kepada-Ku.

Keluarlah dari jiwamu, keluarlah engkau dari kemauan kerasmu ! keluarlah engkau dari amal perbuatanmu!, keluarlah engkau dari namamu!, serta keluarlah engkau dari segala apa yang nyata! “

Jadikanlah arah tuntutanmu ialah ALLAH
Kemauan kerasmu ialah ALLAH
Dan dzikirmu (ingatanmu) ialah ALLAH
Dan ucapanmu ialah ALLAH
Dan pemikiranmu ialah ALLAH

Pembahasan tentang Allah bermuladalam nama-nama, lalu sifat-sifat, kemudian Af’al (perbuatan), kesudahannya kepada dzat. Maka tiada perbuatan bagi nama-nama dan sifat-sifat ilahiat, melainkan dengan dzat ilahiat. Dzat itu ialah Baqinayah Qoyyumiah (berdiri sendiri), Shomadiah (kekal, tempat segala pinta), Ahadiah (Ketunggalan), dan Al Haqqiah (yang Maha Berhak). Dan tiada Nama-nama itumelainkan bergantung juga kepada Dzat. Adapun wujud yang wajib yang hak ialah untuk Dzat itu sendiri.  Dengan sampainya ma’rifat kepada dzat,berhentilah ma’rifat itu. Seperti ilmu yang tidak berkemampuan. Dan seorang abid akan mencapai kelemahannya dan keheran-heran seperti apa yang pernah dialaminya bahwa kelemahan dalam pencapaian adalah merupakan mata pencapaian .iapun tertegun dihadapan laisa kamistlihi syaiun (tiada satupun yang menyerupai).

Dan disini diharuskan mengubah kendaraan dan mengganti. Untuk meneruskan perjalanan diharuskan keluar dari ma’rifah.tahap ini diberinama  Sopan santun. Dan didalam tempat yang lain…AL WAQFAH (Tempat penghentian berdiri), dimana tiada lorong untuk perpindahan, dimana tiada jalan sudah berkesudahan,menuju kepada keghaiban yang mutlak. Akan halnya dengan huruf hendaknya engkau keluar dari huruf dan keluar dari pada apa yang ada pada huruf. Huruf itu menghimpun segala ilmu-ilmu, ma’rifat-ma’rifat, lintasan-lintasan hati, ibarat-ibarat dan arti makna artimakna.
“Hendaknya engkau keluar dari huruf dan Mahruf (mahruf= apa yang diberitakan oleh huruf). Setelah keluar dari huruf dan mahruf, kita akan menjadi kosong hatinya, dari lintasan-lintasan hati, dari ibarat-ibarat dan dari arti makna dan hakikat-hakikat panca indra yang bersifat kebumian semuanya. Dan bersucilah agar Allah berkenan Ber Tajalli kepadaNYA.
Tibalah sekarang giliran AL RU’YAH (pengelihatan) disusul dengan AL RU’YATUL KUBRO (pengelihatan Agung) atau penglihatan akan semua hal ihwal (keadaan).Selanjutnya  berkawan duduk semajlis, bersamaan menjalin persahabatan “Maqom Hadirat” untuk selamanya bersama Allah yang demikian itu adalah  Maqom AL KHULAH (Setia Kawan) AL MAHABBAH (Cinta Kasih)
Inilah Maqom para nabi-nabi,wali-wali, para a’uliya bagi Yang Maha Penyayang.
Disini kita tidak dapat menyebutkan apa yang sedang kita lihat didalam Ber Tajalli, dan apa yang dilihat oleh penglihatan Hati. Itu adalah rahasia Huruf Ilahiat dan Nama-nama Ilahiat.
“ Engkau mengetahui Rahasia Huruf, Sedang engkau masih dalam kemanusiaanmu niscaya akan gila akal budimu”
“ Engkau mengetahui Rahasia Nama (ASMA’), Sedang engkau masih berada dalam kemanusiaanmu niscaya akan gila-lah Hati Sanubarimu” Tuhan berkata kepadanya : “Tiada izin bagimu, kemudian tiada izin bagimu, kemudian tujuh puluh kali tiada juga izin bagimu untuk  membeberkan terhadap apa yang daku percayakan  kepadamu dari rahasia-rahasia huruf-KU, dan nama-nama-Ku……
Setelah sampai pada maqom ini, apa yang disebut Maqom Khilafah yang amat besar, yang didalamnya seorang hamba  akan memiliki Rabbaniah ( Sifat kekuasaan atas sesuatu-sesuatu ). Dan ia akan menjadi seorang Hamba Robbani (Insan Penaka Tuhan ) yang disebutkan didalam Alqur’an :
Dan bukanlah engkau yang melempar, ketika engkau melempar, melainkan Allah lah yang melempar “. ( QS. Al- Anfal 8:17 )
Iklan

%d blogger menyukai ini: