Archive for the ‘KAWERUH URIP’ Category

KAWERUH URIP

9 Februari 2011

Perkembangan kearah kebenaran tidak akan pernah berhenti. Ibarat dian yang menyala,tidak akan padam,sekalipun dihembus angin kencang atau dilanda badai sekalipun,ia menyala dan terus menyala.Menyala menerangi jagad raya sebagai penyuluh abadi setiap insan didalam kehidupannya.Arahnya sudah pasti yaitu Pasujudan tanpa pamrih kepada Kang Murbeng Duma…di. Sedang jalan yang ditempuh adalah mengikuti KehendakNya dan tidak melanggar LaranganNya.

 

Jalan Spiritual adalah cukup rumit dan berliku-liku,dengan banyak sekali jebakan-jebakannya yang tersebar diperbagai tempat perjalanan dan setiap saat mengintai hantu kesesatan.Olah karena itu manusia menyusun berbagai macam Kawruh yang diciptakan berdasarkan pengalaman pribadi yang diterapkan dengan kenyataan yang ada.Karena sifatnya sangat subyektif inilah timbul berbagai jalan,yang satu sama lain mungkin bisa ketemu dan mungkin tidak.Karenanya tidak jarang kalau pada suatu saat tertentu bisa terjadi pertentangan pendapat dimana masing2 pribadi memegang kebenarannya sendiri.

 

Hendaknya bagi orang yang terjun dan menghayati hidup di bidang spiritual harus mencari pegangan yang bisa digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan hidup berNgelmu.Ngelmu adalah pengetarapan rasa bukan pengeterapan pikir.Pengetarapan pikir adalah Kawruh.Dalam Kawruh dibutuhkan Guru dan Buku secara langsung atau tidak.Sedangkan dalam ngelmu,daya hidup yang hendak kita mengerti itu dijadikan sebagai Guru dan Bukunya.Dan Berulah rasa adalah suatu usaha dalam menghidupi ngelmu untuk mempertinggi nilai jiwa yang dilakukan dengan daya upaya untuk membebaskan jiwa manusia dari rasa ikatan kepada ketidakkekalan, ketidakbenaran dan untuk memperkecil rasa keakuan manusia.Dalam pelaksanaannya,mau tidak mau harus mencari suatu cara yang mampu dipertanggung jawabkan.Dan yang perlu disadari,bahwa landasan yang bisa dipertanggung jawabkan hanya satu yaitu kepercayaan sepenuhnya akan adanya Gusti dan kepada Gusti.Apabila kepercayaan kepada Gusti itu mulai bisa dihayati dan diyakini didalam hati sanubari maka karena SihNya dan karena PepadhangNya,kita akan mendapatkan petunjukNya.

 

Proses penyerahan diri kepada Kang Murbeng Dumadi ini akan berjalan selangkah demi selangkah.Kepercayaan yang telah menjadi keyakinan yang nyata akan menimbulkan gerak hidup untuk mengendalikan diri yang artinya mengurangi ikatan2 terhadap ketidakbenaran.Proses kejernihan rokhani itu berjalan dari remang2 sampai nampak terang dan kemudian mampu membedakan mana yang baik,mana yang tidak baik dan mana yang benar serta mana yang tidak benar secara gamblang.Pelita kebenaran secara perlahan akan memancarkan terang dan bertindak sebagai penyuluh didalam dirinya.Dari situ akan timbul kesadaran2 baru yang jauh berbeda dari kesadaran2 sebelumnya.

 

Setiap manusia memang tidak akan dapat membebaskan diri dari hukum ketidakkekalan.Yang mampu manusia usahakan hanyalah sekedar melepaskan diri dalam arti mengurangi rasa kelekatan kepada ketidakkekalan.Jadi bukan membebaskan diri tetapi hanya melepaskan rasa kelekatannya saja.Tahap ini walaupun tidak mudah dalam pelaksanaannya tetapi jika dilandasi ketekunan dan penyerahan yang tanpa pamrih kepada Gusti maka secara perlahan akan bisa mewujud yaitu ketenangan yang mengarah kepada keheningan mulai meresap didalam dirinya.Kegoncangan2 yang sifatnya meledak akan semakin surut dan mudah untuk diatasi apabila muncul.Lalu rasa kayungyun kepada Gusti makin berkembang besar didalam diri disertai dengan semakin mengecilnya rasa keakuan.Pada suatu saat proses itu akan mencapai tingkat Jumbuh/Bersatu didalam Tuhan.Dalam hal ini bukan “aku adalah Tuhan tetapi hanya sekedar kehendak “aku yg kecil” ini bersatu dengan KehendakNya.Jumbuh itu adalah nyawetah yaitu sarana untuk membebaskan diri manusia dari rasa ikatan dan kelekatan kepada ketidakkekalan dan ketidak benaran.

 

Taraf pencapaian tertinggi sebagai manusia biasa adalah sebagai manusia yang sederhana dan hanya mengerti serta memperhatikan Karsa Gustinya.Karsaning Gusti itulah yang selalu kita raba untuk kita mengerti dan berani kita hidupi menjadi suatu kenyataan tanpa perlu menggugah rasa aku kita manusia sehingga dalam hidupnya selalu mengikuti Guru Kebenaran.

 

Tanda2 umum apabila tahap pelepasan diri sudah berada dalam diri seseorang adalah munculnya ketenangan dan kedamaian didalam kehidupan sehari-hari,serta muncul sifat2 kesederhanaan didalam pikir,merasa,berkehendak dan dalam perbuatan.Sederhana adalah murni,miskin dari rasa akuisme.Dalam kesederhanaan,maka setiap percobaan yang menimbulkan kerisauan didalam diri dapat mudah dikenali dan diatasi dengan kerendahan hati didalam rasa sumarah dan sumeleh.Dan dalam kesederhanaan itu maka lambat laun akan mampu membedakan antara pengertian yang berasal dari “kiri” dan “kanan” dengan pengertian yang berasal dari Gusti.

 

Gusti mempunyai daya gaib yang diterima oleh manusia dalam kesadarannya.Gusti adalah Sawetah,Maha Esa.Setiap manusia semestinya bisa menyatukan kehendaknya dengan Karsaning Gusti didalam kesadarannya. Sedangkan perngertian dari “kiri” dan “kanan” hanya bisa diterima melalui indera kita dan tidka bisa bersatu dengan aku manusia didalam kesadarannya.Disamping itu yang tidak dimiliki oleh si “kiri” dan si “kanan” adalah untuk memberikan kodrat Gusti karena memang mereka masih terbatas kemampuannya.

 

Akhir kata,yang perlu disadari oleh kita manusia dengan kerendahan hati dalam menjalani hidup spiritual adalah bahwa buah kehidupan rokhani itu akan tumbuh secara alami dan tidak bisa dicapai dengan kekerasan kehendak yang berdasarkan nafsu ambisi manusia sendiri tetapi hanya dengan jalan PENGHAMPAAN RASA KEAKUAN.

 

Tanpa kerendahan hati,tidak akan bisa berlaku sumarah dan sumeleh;Tanpa sumarah dan sumeleh,tidak akan mengerti dan mampu menghidupi pengendalian dan pelepasan diri;Tanpa pengendalian dan pelepasan diri,Daya gaib Gusti tidak akan pernah bisa kita sadari.Dan tanpa adanya tuntunan nyata dari Daya Gaib Gusti sendiri dalam menghidupi Sang Jalan,maka sesungguhnya kita adalah JIWA YANG TERLANTAR.Jiwa yang terlantar tidaklah pernah mampu untuk mengerti bagaimana dia harus meluhurkan Asma dan mengikuti Karsa Gustinya.Dan tanpa pernah bisa meraba mana yang dinamakan Karsaning Gusti itu,maka seluruh perbuatan kita selamanya akan merupakan wujud dari pengabdian kita kepada rasa keakuan dan kehendak kita sendiri!.Karenanya kemungkinan untuk memadamkan pengabdian kepada kehendak sendiri itu dimulai dari tumbuhnya kemampuan untuk bisa menyadari Karsaning Pangeran.Bhakti kepada ketidakekalan menemukan kesurutannya dengan terbukanya hati manusia untuk melakukan bhakti kepada Kajaten.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: