Archive for the ‘HAKIKAT BELA DIRI DAN PENDEKAR SEJATI’ Category

HAKIKAT BELA DIRI DAN PENDEKAR SEJATI

18 Februari 2011

Ribuan anggota perguruan pencak silat Pagar Nusa di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (15/1) sekitar pukul 21.00 WIB, mengamuk dan mengakibatkan tiga orang mengalami luka bacok dan pukul. “Kami masih mengusut motivasi kejadian pemukulan yang dilakukan anggota perguruan pencak silat Pagar Nusa yang mengakibatkan sedikitnya tiga orang mengalami luka-luka,” kata Kapolres Bojonegoro AKBP Agus Saripul Hidayat. Mereka yang menderita luka bacok pada kepala dan tubuhnya yaitu Ariyanto (22) warga Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, Heru dan Kaswan, keduanya warga Desa Sukowati, Kecamatan Kapas yang mengalami luka pukul dan bacok pada tangannya.

 

Ketiga korban itu masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sosodoro Djatikoesoemo.  Menurut Agus, rombongan anggota perguruan pencak silat dari Pagar Nusa berangkat dari arah barat menuju kota Bojonegoro untuk mengikuti acara “suroan” yang digelar kelompok perguruan pencak silat itu. Di sepanjang jalan antara Kecamatan Balen hingga Kecamatan Kapas, seperti di Desa Sukowati dan Mojodeso, rombongan yang menumpang dua truk dan mengendarai ratusan kendaraan bermotor roda dua itu langsung menghajar dengan pentungan dan golok terhadap siapa pun yang ditemui di jalan.

 

“Tangan kanan Kaswan menderita luka bacok, sedangkan saya terkena pentungan pada kepala,” kata Heru. Sementara itu, seorang warga Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, Sumadi (54) mengatakan dirinya mendapatkan kabar bahwa anaknya, Ariyanto dikeroyok sejumlah orang di antaranya bersenjata golok ketika sedang bermain di tepi jalan.

 

“Anak saya ketika itu sedang bermain di tepi jalan dengan teman-temannya,” katanya ketika ditemui di RUSD Sosodoro Djatikoesoemo sedang menungui anaknya yang pingsan dengan luka bacok di kepala.  Dalam kejadian tersebut petugas kepolisian yang diturunkan berhasil mengamankan sebuah plat kendaraan bermotor roda dua.  Menurut Agus, upaya pengamanan saat ini dilakukan dengan mengerahkan ratusan petugas untuk menjaga sepanjang jalan yang baru saja dilewati rombongan anggota perguruan pencak silat tersebut. Diperkirakan anggota perguruan pencak silat yang datang ke gedung Serbaguna jumlahnya ribuan orang.  “Mereka malam ini (Jumat malam) berkumpul di gedung Serbaguna, dan kami terus mengusut kejadian itu untuk menangkap pelakunya,” katanya.  Setelah adanya kejadian tersebut, warga di sepanjang jalan raya Bojonegoro – Surabaya di Kecamatan Kapas hingga Balen, hingga Jumat malam masih siaga bersama petugas dari Polres dan Brimob Bojonegoro.

 

PENDEKAR SEJATI
Membaca berita dari ANTARA di atas, terus terang membuat kita semua prihatin. Sebagai pendekar, tidak seharusnya mereka mengamuk dengan alasan apapun. Mereka harus pandai-pandai untuk menguasai emosi dan nafsu marah yang membabi buta. Tidak sepatutnya pendekar menggebuki warna masyarakat dengan alasan apapun. Warga masyarakat harus dilindungi, diayomi, dibela. Bahkan ketika mereka salah paham pun, harusnya para pendekar itu memaklumi dan hanya boleh “menangkis” tidak boleh aktif “memukul” atau balik melakukan serangan.

 

Kejadian pendekar ngamuk dan tawuran seperti ini tidak terjadi sekali ini saja. Sangat sering antar pendekar perguruan silat tawuran di berbagai kota di Jawa Timur dan kota-kota yang lain. Ini adalah cermin dari kurang dipahaminya hakikat ILMU BELA DIRI. Apa hakikat bela diri?

 

Sesungguhnya ILMU BELA DIRI INI ADALAH ILMU MEMBELA DIRI SEJATI DARI SERANGAN DIRI YANG TIDAK SEJATI. Jadi musuh utama manusia bukan terletak di luar dirinya. Musuh utama manusia adalah dirinya sendiri. Inilah yang harus diperangi sepanjang hayat di kandung badan. Inilah JIHAD AKBAR yang harus terus menerus dilembagakan di berbagai perguruan bela diri. Dari filsafat tombak kita akan tahu betapa musuh sejati manusia adalah dirinya sendiri. Prajurit pangkat rendah yang berlaga di medan tempur peperangan masa lalu memegang tombak sangat panjang. Semakin tinggi pangkatnya, tombaknya semakin pendek. Sedemikian hingga mereka yang pangkatnya tertinggi sudah tidak memegang senjata lagi. Sebab musuh sejatinya tidak berada di luar dirinya, namun berada di “dalam” akunya sendiri. Di sinilah Iblis bersemayam. “SEMUA SUJUD KEPADAKU, KECUALI IBLIS (AKU YANG TIDAK MAU SUJUD)”…

 

Gelar pendekar tidak sembarangan disandang seseorang. Pendekar harus melalui uji laku, uji nalar dan uji kebijaksanaan yang  dahsyat. Para senopati perang di jaman dulu tidak hanya berteori dengan menguasai banyak ajian dan menang di medan perang dengan menaklukkan musuh-musuhnya saja melainkan juga diuji dengan perang melawan dirinya sendiri. Saat diuji perang melawan dirinya sendiri inilah, kebanyakan para pendekar di masa lalu GAGAL. Sejarah masa lalu bumi nusantara ini dipenuhi oleh banyaknya pendekar yang egois dan gagal. Ya, sejarah kita adalah sejarah yang dipenuhi dengan banjir darah penaklukan pihak luar namun tidak mampu mengalahkan dirinya sendiri.

 

Ada sebuah petuah jawa yang sungguh agung: Dalané guno lawan sekti, kudu andhap asor. Wani ngalah dhuwur wekasané. Arti bebasnya, kalau ingin menjadi orang sakti, harus pandai-pandai untuk merendah sebab berani mengalah akan meninggikan derajat kemanusiaan seseorang.

 

Tidak perlu marah bila dicaci maki, tidak perlu dendam bila dihina, tidak perlu memperturutkan hawa nafsu agar diakui sebagai pemenang, kita tidak perlu semua itu… Yang kita perlukan sekarang ini adalah bagaimana kita mampu menjadi pendekar yang menang melawa diri ego kita yang tidak sejati. AKU SEJATI harus mampu menjadi pengendara kendaraan tubuh fisik biologis kita. Kesadaran fisik harus tunduk pada kesadaran jiwa, dan kesadaran jiwa harus segaris dengan kesadaran rasa sejati.  Untuk para saudaraku, semua pendekar di bumi nusantara: Menahan diri adalah kunci memenangkan peperangan. Musuh sejatimu adalah dirimu sendiri.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: